Pantauan di lapangan, kendaraan-kendaraan tersebut diduga membawa minyak mentah dari titik sumur masyarakat dan ilegal refinery dari tungku-tungku tradisional di wilayah Sanga Desa dan Batanghari Leko, kemudian dibawa keluar Muba. Kondisi ini menimbulkan keresahan, selain merusak jalan, juga rawan kebakaran dan ledakan. Hasil investigasi di lapangan awak media mengantongi beberapa nama oknum mafia minyak yang berasal dari Muratara diantaranya,insial EP,NK.WJ.AS selain itu Mobil Pickup dari daerah Pantai Muratara.
"Mobil pickup bak terbuka bawa minyak bau menyengat melintas depan rumah kami setiap hari. Kalau bocor, bisa terbakar. Kami takut, tapi tidak ada yang berani tegur," ujar warga yang enggan disebut namanya.
Publik menilai ada pembiaran. Pasalnya, kendaraan pengangkut BBM ilegal tersebut melintas terang-terangan, bahkan di siang hari.
Menyikapi hal itu, masyarakat dan tokoh pemuda Muba mendesak Kapolda Sumsel dan Pangdam II/Sriwijaya serta Danpomdam II/Sriwijaya untuk melakukan investigasi rahasia dan operasi lapangan secara tegas.
"Kami minta Kapolda dan Pomdam jangan hanya terima laporan di atas meja. Turunkan tim investigasi rahasia, lihat sendiri di lapangan. Ini sudah terang-terangan. Kalau Polri tidak bisa, libatkan TNI, Pomdam harus turun karena ini menyangkut keselamatan negara dan aset negara yang dirugikan," tegas salah satu tokoh masyarakat Muba.
Desakan ini muncul karena aktivitas illegal drilling dan illegal refinery diduga kuat dibekingi oknum, sehingga sulit disentuh Aparat Penegak Hukum (APH) di daerah.











